Setiap hari saat shubuh menjelang, sesosok wanita yang sudah renta nampak bangun dari atas tempat tidur yang terbuat dari kayu, dengan baju kusut dan lusuh yang ia kenakan hampir tiap hari.
ia bangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka atau membersihkan badan.
dengan langkah kaki yang gontai ia kemudian menuju dapur tempat ia bekerja. Ya, ia adalah koki di warung miliknya sendiri.
tak pernah terbayang olehku, betapa dinginnya udara pagi yang ia jumpai hampir setiap pagi itu ?
" mengapa ia mampu ? " tanyaku dalam hati.
pagipun kian menyapa, tugas yang ia kerjakan semakin banyak.
ya, selain harus sibuk membuat masakan untuk di jajahkan, ia pun sebeumnnya harus membuka warung kecil yang ia punya dan juga harus merapihkannya agar terlihat menarik pelanggan.
maklum, ia berjualan di sekitar komplek pondok pesantren yang notabene di huni oleh remaja remaja yang sedang menuntut ilmu.
jadi wajarlah, jikalau warung itu harus tetap terlihat rapih dan bersih, walaupun bangunan warung itu nampak sudah tua dan keropos.
dan hal yang membuatku merasa kagum dan bangga pada ia adalah, 1 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan dia, pernah mengenyam pendidikan tertinggi.
ya , anak laki2 beliau kuliah di salah satu Universitas Islam Negeri di Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah tepatnya.
dan beberapa tahun lalu ia telah menyelasaikan pendidikan S1 yang ia geluti dan sekarang mendapat gelar S.Psi. (sarajana psikologi).
dan anak perempuan beliau pernah mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Tinggi Swasta di Indramayu dan juga beberapa waktu telah berhasil menyelesaikan pendidikan D3 yang ia geluti dan sekarang sudah bergelar A.md.
bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh wanita tua itu untuk membiayai semua itu ?
apakah beliau lelah ?
Tidak. beliau tidak pernah lelah dan menyerah.
seorang wanita penjual nasi yang sudah tua, renta , dan lemah, tapi mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan yang tertinggi.
menurutku bukan suatu perkara yang mudah.
ya, karena beliau harus bisa membagi uang yang ia peroleh untuk biaya sekolah anaknya dan juga ia sisihkan untuk kebutuhan hidup sehari hari kelima anaknya.
Bersambung ...
27 Oktober 2013
Ibuku Seorang Penjual Nasi Part 1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar