26 Juli 2016

Hidup

Dalam hidup kita kerap berpindah. Dari satu masa ke masa lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu rasa ke rasa lain. Dari satu suasana ke suasana yang lain.
Lalu suatu ketika, -pada saat kau sudah sedemikian jauh berpindah-, kita rindu pada hal-hal yang terdapat di masa lalu.
Suasana, aroma, rasa; perasaan yang memaksamu ingin kembali.

Dan berharap, ketika setibanya pulang dan kembali nanti semua perasaan rindu itu tuntas dengan kembalinya suasana yang kita rasakan pada masa dahulu. Tapi, ternyata semua itu hanya bayang-bayang semu yang ada di dalam kepalamu, asa kosong tak bernama. kau telah mundur ke belakang, tapi rasanya seperti tak kembali. Kau telah pulang, tapi tetap merasa asing di tempatmu sendiri.

Lalu di titik nadir kecemasanmu, akhirnya kau tahu. Ketika kelak di masa depanmu nanti kau merasa rindu akan masa lalu, yang sebenar-benarnya kau butuhkan bukanlah kembali ke masa lalu. Melainkan sekadar mengingat lagi, hal-hal apa saja yang kau jadikan alasan atas kebahagiaan itu.

Sebab, ketika kau memutuskan pergi dan berpindah pada hal yang baru, tak selamanya pulang dan kembali ke masa lalu akan menyajikan hal yang sama lagi.

Karena hidup hanya sekali, buatlah berarti.

30 Januari 2016

Kepadamu Seorang Anak Ingusan !

“Suatu hari nanti, Kamu akan tahu satu hal berat yang harus dialami seorang laki-laki.”

Katamu kepada seorang anak ingusan, yang jangankan untuk berlari, merangkak saja masih sering jatuh.

…

Anak laki-laki kecil ingusan itu tumbuh, merangkaki waktu-waktu sulit dengan mudah. Belum. memang belum saatnya untuk anak ingusan itu memahami arti waktu yang sulit dengan sebenar-benarnya.

Anak kecil itu kini sudah dapat berjalan, meniti kakinya perlahan di jalanan yang datar, kemudian sedikit merasa sombong, mencoba untuk memaksakan kakinya yang belum tegap benar itu untuk berlari. Ia terjatuh. Tapi saat itu masih ada kamu yang membantunya untuk berdiri kembali.

Anak kecil dengan segala kesombongannya itu terus berusaha berlari. Berkali-kali ia jatuh dan berkali-kali juga kamu membantunya berdiri. Begitu seterusnya.

Hingga sampai pada suatu ketika…

Kamu yang saat itu tak lagi mampu mengangkat tubuh anak ingusan sombong yang sering jatuh akibat belajar berlari itu, merasa perlu memberikan sebuah pelajaran, sebuah arahan, tentang bagaimana cara berlari yang baik agar tidak perlu jatuh berkali-kali.

Namun memang dasar kesombongan yang telah lebih dulu tumbuh pesat di kepala si anak ingusan itu, membuat si anak tetap bersikeras tak mau mendengarkan. Telinganya sengaja dibuat tuli saat kata-kata arahan disematkan dari kamu kepadanya.

Sampai akhirnya…

Kamu benar-benar pergi, tak ada lagi orang yang membantu sang anak berdiri, tak ada lagi orang yang memberi arahan kepada si anak.

Anak itu kini sendirian, terjatuh, tersungkur, terpelanting di jalanan. Tanpa ada kamu lagi yang membantu berdiri. kakinya hampir melemah karena seringnya ia terjatuh.

Lalu, anak itu mulai sedikit sadar dan mengingat satu kalimat yang pernah diucapkan kamu dulu, saat ia masih belajar merangkak.

Anak itu menangis, sekeras-kerasnya ia bisa, berteriak hingga kerongkongannya gatal dan serak. ia memaki kesombongannya sendiri.

…

Anak itu, kini enggan memaksakan kaki rapuhnya untuk berlari, anak itu memilih untuk berjalan. Berjalan sambil mencoba memahami dan mencari arti dari kalimat kamu, tentang satu hal berat yang harus dialami seorang laki-laki.

Sampai saat ini…


Terimakasih untuk semua wejangan yang engakau berikan padaku, (Almarhum) Ayahku.
Semoga engkau selalu berada di tempat terbaik di surga sana
Aminn.
Aku selalu mencintaimu.

Longtan , Taoyuan Taiwan 30 Januari 2016.

27 Oktober 2013

Ibuku Seorang Penjual Nasi Part 1

Setiap hari saat shubuh menjelang, sesosok wanita yang sudah renta nampak bangun dari atas tempat tidur yang terbuat dari kayu, dengan baju kusut dan lusuh yang ia kenakan hampir tiap hari.
ia bangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka atau membersihkan badan.
dengan langkah kaki yang gontai ia kemudian menuju dapur tempat ia bekerja. Ya, ia adalah koki di warung miliknya sendiri.
tak pernah terbayang olehku, betapa dinginnya udara pagi yang ia jumpai hampir setiap pagi itu ?
" mengapa ia mampu ? " tanyaku dalam hati.
pagipun kian menyapa, tugas yang ia kerjakan semakin banyak.
ya, selain harus sibuk membuat masakan untuk di jajahkan, ia pun sebeumnnya harus membuka warung kecil yang ia punya dan juga harus merapihkannya agar terlihat menarik pelanggan.
maklum, ia berjualan di sekitar komplek pondok pesantren yang notabene di huni oleh remaja remaja yang sedang menuntut ilmu.
jadi wajarlah, jikalau warung itu harus tetap terlihat rapih dan bersih, walaupun bangunan warung itu nampak sudah tua dan keropos.
dan hal yang membuatku merasa kagum dan bangga pada ia adalah, 1 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan dia, pernah mengenyam pendidikan tertinggi.
ya , anak laki2 beliau kuliah di salah satu Universitas Islam Negeri di Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah tepatnya.
dan beberapa tahun lalu ia telah menyelasaikan pendidikan S1 yang ia geluti dan sekarang mendapat gelar S.Psi. (sarajana psikologi).
dan anak perempuan beliau pernah mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Tinggi Swasta di Indramayu dan juga beberapa waktu telah berhasil menyelesaikan pendidikan D3 yang ia geluti dan sekarang sudah bergelar A.md.
bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh wanita tua itu untuk membiayai semua itu ?
apakah beliau lelah ?
Tidak. beliau tidak pernah lelah dan menyerah.
seorang wanita penjual nasi yang sudah tua, renta , dan lemah, tapi mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan yang tertinggi.
menurutku bukan suatu perkara yang mudah.
ya, karena beliau harus  bisa membagi uang yang ia peroleh untuk biaya sekolah anaknya dan juga ia sisihkan untuk kebutuhan hidup sehari hari kelima anaknya. Bersambung ...

25 Oktober 2013

Kepergian ayahku untuk selamanya

malam itu tanggal 24 november 2012 seperti biasanya saya bangun jam 11 malam untuk bersiap bekerja pada pukul 12nya(waktu itu saya shif malam). sungguh sulit dan malas memang, harus bangun di saat kebanyakan orang sedang tidur pulas tetapi saya harus bangun untuk bekerja. sungguh malas karena saya tidur di kasur yang sangat tipis dan harus terbiasa dengan keadaan kamar yang sangat berisik dikarenakan jumlah kami 6 orang dalam 1 kamar.
bisa dibayangkan bagaimana sempit dan berisiknya kamar yang hanya berukuran 8X4 meter di isi oleh 6 orang.
sungguh bukan tempat yang layak.
lanjut cerita.
malam itu saya bekerja seperti biasanya dengan santai dan tak ada firasat apapun.
ketika saya pulang pukul 8 pagi, tiba tiba handphone saya bergetar karena ada sms yang masuk.
ternyata dari kk saya sms itu, dan lantas saya baca isinya.
" Ya Allah" ucapku dalam hati.
isi sms itu membuat saya shock, begini isinya  " A , babeh masuk rumah sakit " .
" rumah sakit ?? " gumamku.
shock dan kaget seketika bergeliat menyerang semua isi otakku.
maklumlah babeh saya tipikal orang yang sangat jarang sakit, paling biasanya hanya sakit biasa, yang hanya minum obat warung langsung sembuh.
tapi ini beda, ya beda.
setelah saya telfon keluarga dirumah dan menanyakan alasan dan kenapa babeh bisa di bawa ke rumah sakit, barulah saya mendapat kejelasan akan penyakit babeh.
babeh saya terkena gagal ginjal.
selama 2 hari setelah kabar itu fikiran saya tidak karuan hingga pada tanggal 27 pagi, saya di telfon oleh saudara saya yang ada di Hongkong(TKI juga sama dengan saya).
dia berkata :
" angga udah telfon babeh belum ? " ucap dia
" belum, emang kenapa mba ? " jawabku
" udah telfon aja dulu !! " ucap dia dengan nada tinggi
" lah iya emang ada apa , sampe mba marah-marah gitu kenapa ? babeh sehat ko " jawabku dengan nada santai.
tiba tiba berkata sembari menangis sendu;
" hiks... hiksss .. hikkss babeh kamu udah ga ada angga .. hiks hiks hiks .. "  ucap dia dengan pelan.
dan sontak aku langsung terdiam dan sama sekali tidak berbicara apapun, aku dengar di memanggil namaku sembari berkata " angga yang sabar .. sabar ... "
tapi aku tetap diam.
hingga setelah beberapa saat aku menjawab dengan santai dan biasa " Innalillahiwainnalillahi rojiuuun .." sama sekali aku tidak menangis, sama sekali.
hingga akhirnya dia menyuruh aku untuk menelepon rumah, dan aku segera mematikan telfon dia , dan langsung menelfon kerumah.
" tut.... tuttt ... tutt ... tutttt .."
tidak ada jawaban hingga berkali kali.
dan akhirnya ada jawaban dari kakak pertamaku.
" halo, babeh sehat kak ? " tanyaku pada dia walaupun aku tau babeh sudah tidak ada tapi aku tetap bertanya seperti biasa dan ingin tahu jawaban apa yang kuterima.
" babeh sehat , ini udah dibawa kerumah ko " jawab dia.
dalam hati aku berkata " kenapa ? kenapa harus bohong ? kenapa ? " gumamku.
aku pun lantas menyuruh telfon itu di berikan pada ibuku.
terdengar suara rintihan tangis ibuku tapi di tahan olehnya.
aku langsung bertanya pada ibu dan pura pur tidak tahu " bu, ada apa sebenarnya ? kenapa ? ".
seketika ibuku menangis sekencang kencangnya dan berkata;
"hiks hiks hiks ... yang sabar a , babeh udah ga ada "  ucap ibuku.
aku diam dan akhirnya aku ikut menangis tapi tak lama karena aku langsung menenangkan ibuku.
karena ibu bilang dia kasihan padaku karena jauh dan tidak bisa melihat jenazah babeh untuk yang terakhir.
sanak keluarga bergantian meminta berbicara denganku dan semuanya berkata sama, iya sama. mereka hanya berkata "SABAR DAN TABAH " tanpa mengerti dan tahu apa yang aku rasakan disini, di perantauan jauh dari kuarga dan mendapat kabar yang sangat menyakitkan seperti itu.
perih, frustasi , semua menggelayut di fikiranku.
karena jujur saja, saya kesini berkat kerja keras ayah saya yang rela menjual 4 sapi yang di ternakan olehnya selama beberapa tahun hanya untuk biaya saya kesini, tadinya sapi itu di peruntukan bagi saya saat saya menginjak bangku kuliah. tapi saya tolak dengan alasan tidak mau merepotkan orang tua. dan lebih ingin uang hasil menjual sapi itu saya gunakan untuk ongkos kesini. yang apabila dikalkulasika bisa mencapai 50 juta rupiah, cukup untuk menyelesaikan kuliah saya hingga sarjana.
saya tahu bagaimana lelah dan capenya mengurus sapi itu, karena saya juga ikut merawat, dan juga membesarkan sapi itu. panas , hujan , rumput harus dicari agar sapi bisa tetap makan.
itulah mengapa saya sangat kehilangan sekali sosok penting dalam hidup saya , yaitu babeh saya :-(
sekarang hanya doa yang bisa saya sampaikan , dari jauh sangat jauh , untuk Alm. babeh saya yang sangat saya sayangi, semoga engkau tenang dan mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT.
aku rindu engkau beh, sangat rindu :-(
dalam mimpi pun kau tidak mau hadir:-(
maaf kan anakmu ini beh:-(
aku rindu sekali :-(
      

by : IING ANGGA RIAWAN

Melangkah

Jarum jam tidak akan berputar ke arah kiri. Atur langkahmu kembali. Menjauhlah dari apa-apa yang sudah pergi.